August 3, 2009

Abu Nawas - Yang lebih Kaya dan Mencintai Fitnah


Seperti biasa, Abu Nawas berjalan-jalan mengunjungi pasar. Tempat inilah yang paling ia sukai karena dari tempat ini ia dapat menyampaikan ide-idenya ke masyarakat luas secara langsung.
Tiba-tiba ia berdiri di suatu tempat yang cukup tinggi untuk di dengar seluruh orang di pasar. Dengan suara agak keras, ia mulai berpidato, “Saudara-saudara sekalian. Ada yang perlu saudara-saudara ketahui tentang Raja kita yang tercinta, Baginda Harun Al Rasyid.”
Seluruh isi pasar terdiam, pandangan tertuju padanya. Orang-orang di pasar itu menunggu-nunggu kalimat berikutnya yang akan dikeluarkan oleh Abu Nawas. Melihat pandangan semua tertuju padanya, Abu Nawas semakin percaya diri.
“Kalian harus tahu, bahwa sebenarnya Baginda Harun Al Rasyid lebih kaya dari pada Allah.”
Tiba-tiba bergemeruhlah suara orang-orang dipasar. Semua orang tersentak mendengar kata-kata yang keluar mulut si Abu Nawas.

“Tenang….tenang…..tenang saudara. Masih ada lagi.”
Lagi-lagi seluruh orang pasar terdiam.
“Baginda kita itu, sebenarnya sangaaaaaaat mencintai fitnah.”
Meledaklah lagi gemuruh orang seluruh pasar. Banyak yang memprotes omongan Abu Nawas. Tetapi si Abu Nawas nampak tenang-tenang saja tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Tiba-tiba sejumlah tangan merengut kedua lengan Abu Nawas. Tetapi Abu Nawas berusaha tetap tenang. Ia tahu itu adalah tangan-tangan dari punggawa-punggawa kerajaan. Diseretlah Abu Nawas menghadap raja Harun Al Rasyid.
Dengan muka geram, raja Harun Al Rasyid menginterogasi Abu Nawas dihadapan penasihat-penasihatnya. “Apakah benar dipasar kamu mengatakan bahwa Aku lebih kaya dari Allah?”
“Benar baginda.”
Makin geramlah Harun Al Rasyid.
“Apakah benar kamu juga mengatakan bahwa aku mecintai fitnah?”
“Maaf, Baginda. Itu benar adanya,” jawab Abu Nawas tenang.
“Pengawal!! Bawa Abu Nawas ke penjara. Gantung dia besok pagi.”
“Tenang, Baginda. Beri saya kesempatan untuk menjelaskan apa maksud kata-kata saya itu.” Abu Nawas memohon dengan wajah yang memelas.
“Cepat katakan! Sebelum kau temui ajalmu.”
“Begini Baginda. Maksud kata-kata saya bahwa Baginda lebih kaya dari Allah adalah baginda memiliki anak, sedang Allah tidak dimemiliki anak. Bukan begitu Baginda?”
Harun Al Rasyid terdiam. Dia tersenyum dalam hati. “Dasar. Si Abu Nawas.”
“Terus, maksud kata-katamu bahwa aku mencintai fitnah?”
“Maksudnya, bahwa Baginda sangat mencintai istri dan anak-anak Baginda sendiri. Padahal mereka dapat menjadi fitnah bagi Baginda. Bukan begitu Baginda?”
Harun Al Rasyid pun hanya bisa geleng-geleng kepala. “Lalu, kenapa kamu teriak-teriak di pasar? Yang tidak paham perkataanmu bisa marah.”
“Yah, kalau masyarakat marah. Nanti kan Saya dipanggil oleh, Baginda.”
“Kalau Aku sudah memanggil, memang kenapa?”
“Hmmmm….Yah…biar dikasih hadiah, Baginda,” ucap Abu Nawas lirih.
Baginda pun hanya bisa tersenyum simpul. Lalu diberikannya sekantung uang dinar ke Abu Nawas.
sumber:http://syafii.wordpress.com/2007/04/02

Mencari Erti Hina sebagai Hamba

Betapa hinanya engkau wahai manusia dengan status hamba itu. Mengapa masih ada perasaan bangga diri dalam diri. Jika kita masih ada rasa riak, bangga, segala bentuk perasaan mazmumah, kita masih belum betul-betul menghayati erti hamba. Walaupun perasaan itu hanya sekelumit atau hanya terlintas dalam hati. Ingatlah bahawa hamba itu tiada daya upaya selain mengharap segala bentuk pertolongan, rahmat dan belas kasihan dari tuannya. Ingatlah kita hanya orang suruhan yang perlu patuh dengan setiap perintah tuannya. Jika kita ingkar, ingatlah sebagai hamba yang lemah, kita tiada daya upaya untuk melawan hukuman dari tuannya.
Siapalah kita...segalanya yang kita miliki hanya pinjaman, hanya anugerah rahmat Allah. Kita tiada apa-apa. Bayangkan..jika engkau berdiri di tengah padang pasir gurun sahara..pandanglah ke langit ...renunglah bintang-bintang dipanorama malam indahnya...sesungguhnya bintang-bintang yang bertaburan diangkasa lebih banyak dari tebaran pasir-pasir di Gurun sahara..di lautan...begitulah besarnya ciptaan Allah yang tiada tandinganya..dimana kita diantara bintang-bintang dan taburan pasir itu...Maka ambillah segenggam pasir itu..dan taburkanlah....bolehkah anda melihat mana pasir itu ditengah padang pasir..begitulah umpamanya.tiada nilai....kita sebagai hamba...tiada nilai disisi Allah kecuali amal dan taqwa yang bersungguh-sungguh...Yang selalu menagih rasa kasih, kasihan dan sayang dari tuannya..memohon..memunajat setiap waktu kepada Allah....Ya..Allah..setiap perjalanan hambamu ini..terkadang hadir sekelumit rasa bangga dengan anugerahmu..Mengapa ya Allah..Sepatutnya aku memanjatkan setinggi kesyukuran diatas segala anugerahmu..dengan selautan rahmatmu...Telah sedaya upaya ku cuba menghadirkan rasa hina diri sebagai hamba..tetapi aku gagal dek kerana godaan syaitan telah menjerumuskan perasaan itu. Hasilnya menanglah perasaan mazmumah. Telah ku pujuk hati ini agar tidak terus dibuai perasaan-perasaan riak ujub dan bangga diri. Ku pujuk berkali-kali diri ini...akhirnya hanya kepadamu ku memohon ya Allah. Tolonglah aku ya Allah...Tidak layak aku sebagai hamba mempunyai perasaan itu...Ampunkahlah aku ya Allah...Terdengar aku di Radio Mutiara FM, ceramah agama setiap jam 2.30 petang..Aku memang tidak pernah ketinggalan mendengarnya...Ustaz pada hari itu mengatakan...Mencari Erti Hina sebagai hamba hanya benar-benar boleh diperolehi dengan mempelajari ilmu Tasawuf...Ilmu mengenal tuhan..Ya..Allah bantulah andainya saat ini, detik ini, engkau mengambil nyawaku...oh..apakah bekalan yang ku bawa..Apakah persediaan yang telah ku buat untuk menghadapi mahkamah tuhan..Yakinlah dunia ini sementara...jika dibandingkan dengan akhirat yang kekal..ibaratnya dunia umpama pentas, manusia adalah pelakonnya..Semua lakonan itu akan dinilai...